Surya agung Memaksimalkan potensi bisnis salak pondoh dan lumut

Tak hanya daging buahnya yang dapat dimanfaatkan, kulit salak pondok yang serupa sisik ular bisa disulap menjadi aneka barang kerajinan cantik. Selain itu, pengalaman memetik salak pondoh langsung di kebun mampu menarik minat wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Jogja (Kompas) Tak hanya daging buahnya yang dapat dimanfaatkan, kulit salak pondok yang serupa sisik ular bisa disulap menjadi aneka barang kerajinan cantik. Selain itu, pengalaman memetik salak pondoh langsung di kebun mampu menarik minat wisatawan dari dalam dan luar negeri.

Lahir dari keluarga petani salak pondoh, Surya Agung (35) mengaku akrab dengan tanaman ini sejak kecil. Keakraban itulah yang mendorongnya menemukan berbagai terobosan baru dalam memasarkan potensi salak pondoh di kampungnya.

Menurut dia, tahun 1985-1990 merupakan masa gemilang bagi petani salak pondoh di dusunnya, yaitu Dusun Kenteng, Wonokerto, Turi, Sleman. Petani bisa membangun rumah bagus dan menyekolahkan anak ke perguruan tinggi.

Namun, memasuki 1990, harga salak pondoh di pasaran anjlok. Bibit salak menyebar ke banyak tempat. Pada waktu panen raya, pasar dibanjiri salak pondoh dari berbagai daerah, katanya, Senin (18/8), saat ditemui di rumahnya.

Maka, jika sebelumnya hanya membantu orangtua, anjloknya harga salak itu membuat Surya terlibat lebih jauh dalam upaya mengelola potensi salak pondoh. Pada 1995, Surya yang masih mahasiswa di Fakultas Teknik Universitas Islam Indonesia Yogyakarta mulai mengelola lahan salak pondoh keluarganya dengan metode baru. Selain beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik, ia menata kebun sedemikian rupa menjadi lokasi agrowisata yang menarik. Upaya itu menarik minat petani lain. S

urya bersama sejumlah petani lantas mendirikan kelompok wisata salak petik sendiri. Dalam kelompok ini petani mengubah sebagian kebun salak pondoh menjadi tempat wisata. Dengan tarif tertentu, wisatawan yang datang bisa memetik salak sepuasnya di kebun tersebut. Setiap bulan, ada sekitar 1.000 wisatawan yang berkunjung, kata Surya. Namun, kebun wisata itu belum bisa menyelesaikan masalah petani saat panen raya tiba.

Menurut Suryo, petani biasa memasarkan salak ke tengkulak dan pasar-pasar tradisional. Padahal, dalam setahun, total produksi salak pondoh petani bisa mencapai 1.500 ton. Melihat kondisi pasar tradisional yang jenuh, Suryo lantas membidik pasar modern. Ia lantas mendirikan CV Surya Alam Sejahtera Indomerapi yang memayungi manajemen kebun wisata dan memasarkan salak dari kebun petani. Langkah itu berhasil. Kini, salak dari Sleman bisa ditemui di pusat perbelanjaan seperti Carrefour, Hypermart, dan sejumlah toko serba ada. Dalam sebulan, Suryo yang mempekerjakan 18 karyawan ini bisa mendapat omzet hingga Rp 300 juta. Saat ini, kami juga membidik pasar China, ujar Suryo.

Tak puas di situ, lewat CV-nya, Suryo juga membina para petani perempuan untuk membuat makanan olahan seperti jenang, dodol, dan keripik dari salak. Kulit salak dimanfaatkan untuk membuat aneka kerajinan seperti tas dan gantungan kunci. Produk-produk itu ditawarkan sebagai cendera mata bagi wisatawan yang berkunjung ke kebun salak.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/19/11403943/.surya.agung.memaksimalkan.potensi.salak.pondoh

 

Jalin ukm : Adalah mungkin bahwa masyarakat turi sleman dan srumbung magelang yang notabene sebagai sentra salak pondoh dan salak lumut berinisiasi untuk pengembangan potensi bisnis salak pondoh seperti yang dilakukan surya agung.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: