Brownis salak pondoh dan lumut solusi UKM yogyakarta

Sindonews.com – Ibarat pepatah “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”, kehadiran Salakka berhasil memberikan nilai lebih kepada para petani salak pondoh di daerah Lereng Merapi Sleman Yogyakarta.

Salakka, merupakan sebuah inovasi produk hasil kerja keras Decky Suryata bersama istrinya. Yaitu berupa penganan ringan brownies dengan berbahan dasar salak pondoh.

Usaha ini berawal dari pertengahan 2010 lalu. Saat itu Decky melihat kondisi para petani salak yang kurang sejahtera karena harga jual yang begitu rendah dan fluktuatif serta tidak adanya pengolahan dari buah tersebut yang membuat banyak salak yang tidak habis terjual ditimbun untuk dijadikan pupuk.

“Kondisi seperti ini membuat saya memutuskan untuk bekerja sama dengan para petani. Istri saya coba bikin resep brownies dengan bahan salak, terus saya beranikan untuk membeli hasil panen mereka yang 40 persen lebih tinggi dari harga pasar yang bertujuan untuk mensejahterakan mereka,” ujarnya saat ditemui Sindonews, di Jakarta baru-baru ini.

Permasalahan rasa memang menjadi kendala yang utama bagi mereka, dimana produk pertama Salaka ini adalah cake brownies yang saat itu banyak orang meragukan salak sebagai bahan baku pembuatannya. Tidak lama berselang, keunikan dan rasa penasaran justru menjadi andalan bagi brownies salak pondoh ini yang seiring berjalan bakpia salak pondoh juga diluncurkan.

Pria dengan titel Sarjana Ekonomi ini mengakui hanya menggunakan modal sekitar Rp50 juta yang ditambah dengan memanfaatkan peralatan yang sudah dimilikinya seperti kamar, baskom, blender dan yang lainnya.

“Pas awal untuk omzet di bulan-bulan pertama, kita hanya mampu menjual 10 kotak itu dengan cara door to door, titip di kios, kerja sama dengan supir taksi, travel agen dan media online sambil melakukan edukasi rasa,” tutur Decky.

Namun dengan kerja keras yang dilakukan sampai pertengahan 2011, setiap bulan Decky berhasil menjual 100 kotak/hari dengan harga yang ditawarkan untuk satu cake brownies Rp30 ribu dan bakpia seharga Rp25 ribu. Bahkan ketika musim liburan datang seperti Hari raya dan akhir tahun, omzet dari usaha ini dapat meningkat sampai dengan 30 persen.

“Mungkin ini dari nama juga kali ya, Salakka yang sebenarnya diambil dari nama latin buah salak yaitu zalaka tapi kita ubah menjadi salakka yang ternyata tersimpan doa di dalamnya. Kan kalau dipanjangi jadi sangat laku sekali atau salak laku sekali,” tuturnya sambil tersenyum.

Saat ini, segmentasi pasar yang ditargetkan, masih bergantung pada setiap wisatawan yang datang dan belum terpikirkan untuk memasarkan Salakka keluar dari Yogyakarta karena produk ini merupakan oleh-oleh khas Yogyakarta.

Untuk kedepannya pria asli Sleman ini sangat berharap bisa memberikan yang terbaik untuk para petani dan memberdayakan mereka untuk menciptakan produk olahan baru yang lebih modern sehingga UMKM dapat berkembang dan di kampung halamannya akan menyediakan semua tentang salak pondoh.

 

jalin ukm : Salak pondoh super banyak dibudidayakan masyarakat turi, salak pondoh lumut banyak dibudidayakan masyarakat srumbung magelang. keduanya memiliki potensi sebagai bahan baku brownies.

selamat mencoba

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: