Ahmad Ngabdulloh, Profil sukses Pengusaha batu alam muntilan

Setelah mengambil alih usaha ayahnya, Ahmad Ngabdulloh (32) membidik turis asing sebagai pelanggan. Ia juga membuat desain kerajinan batu alam yang berbeda dari para kompetitor. Setelah itu, ia mengajak kerja sama pengusaha mebel untuk menambah jumlah pelanggan. Kini, ia berencana membuka cabang di Tangerang.

Ketika awal menjalankan usaha kerajinan batu alam di Muntilan, Magelang, Jawa Tegah, Ahmad Ngabdullah sempat gamang. Dia melihat di sekelilingnya sudah penuh toko kerajinan batu alam.

Jika jalan-jalan di sepanjang jalan raya Muntilan, di situ memang berderet-deret toko aneka kerajinan batu alam. Mulai dari cobek, patung, batu hiasan taman lengkap dengan air mancurnya, hingga miniatur candi Borobudur.

Bagi konsumen, kehadiran banyak toko memang menguntungkan, karena banyak pilihan. Tapi bagi Ahmad, semakin banyak toko itu berarti semakin banyak pesaing.

Meski begitu, Ahmad masih beruntung lantaran punya toko berlokasi di pinggir Jalan Raya Muntilan, sehingga ia bisa leluasa memajang karyanya. “Tapi letak toko saja tidak menjamin penjualan naik,” kata Ahmad.

Untuk menggaet pembeli, Ahmad mesti kerja keras. Apalagi target pembelinya adalah turis asing. Untuk itu, Ahmad mesti mencari informasi tentang belanjaan yang paling disuka para turis itu. Ahmad yakin, dari sekian banyak turis yang datang ke Borobudur, pasti ada satu atau dua turis yang ingin membeli kerajinan batu.

Nah, untuk mengetahui daftar rencana belanja para turis itu, Ahmad perlu melakukan pendekatan dengan pemandu wisata.

Setelah mengetahui keinginan belanja turis, Ahmad kemudian mencoba memenuhi dengan membuat kerajinan batu alam seperti keinginan turis dan kemudian dia pajang di depan toko. “Saat turis itu lewat, setidaknya mereka bisa mampir meskipun belum tentu beli,” kata Ahmad.

Strategi Ahmad itu berbuah manis. Banyak turis yang tertarik dan mampir melihat kerajinan batu alam di Toko 77 Craft milik Ahmad. Lamban laun, produk Ahmad pun kian dikenal dan mulai laku dibeli para turis.

Namun, Ahmad tak hanya berkreasi demi menyenangkan turis. Dia tetap melakukan inovasi dengan membuat konsep baru kerajinan batu alam. Ia ingin, produknya berbeda dengan para kompetitor di sekitarnya. “Intinya saya ingin menghasilkan yang kreatif dan menarik,” kata Ahmad.

Berbekal aplikasi desain AutoCad yang dipelajari semasa kuliah, Ahmad mulai membuat desain baru. Nah, salah satu desain yang kemudian lahir adalah hiasan taman yang mengalirkan air mancur. Hiasan taman itu unik karena ada bola yang bisa berputar terbalik. “Ternyata ilmu kuliah saya tidak sia-sia,” kata Ahmad.

Tak disangka, desain baru bisa menjadi maskot baru di tokonya. Apalagi, karya Ahmad tidak tersedia di toko kompetitor yang membuat kerajinan dengan desain tradisional.

Sukses dengan menciptakan produk kreatif, Ahmad mencari pangsa pasar lagi dengan cara membuka jaringan kerja sama penjualan. Salah satu yang dia bidik adalah perajin mebel di Yogyakarta. Ahmad melobi mereka agar mau mengarahkan pembeli kerajinan batu ke tokonya. “Jika ada yang cari mebel, saya juga arahkan ke mereka,” kata Ahmad.

Setelah pasar dia rasakan cukup terbuka, selanjutnya Ahmad membenahi sistem layanan konsumen yang datang ke toko. Ahmad menilai, layanan merupakan pintu masuk bagi kenaikan penjualan. “Ramah pada konsumen menentukan nasib bisnis,” kata Ahmad. Berkat keramahan pelayanan itu pula, semakin banyak pemandu wisata yang menggiring para turis masuk ke tokonya.

Namun, keramahan Ahmad pernah pula berbuah apes. Sekitar 2008 silam, dia tertipu calon konsumen yang memesan kerajinan batu tapi tidak mengambilnya. “Sekarang saya kapok, meski sudah kenal, pemesan harus bayar, minimal persekot,” kata Ahmad.

Kini Ahmad memiliki impian membuka cabang di Jakarta, tepatnya di Bumi Serpong Damai (BSD). “Sudah ada yang saya ajak kerja sama” kata Ahmad.

Rencana membuka gerai di Jakarta itu bertujuan untuk mendekatkan produknya kepada konsumen. Sebab, banyak calon pembeli di Jakarta selama ini gagal dalam transaksi karena kesulitan dalam mengirim barang. “Ada yang keberatan karena mahal ada juga pembeli yang takut pesanan rusak saat pengiriman,” kata Ahmad.Foto ahmad bersama pelanggan

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: