Usaha Kerajinan Tenun, prospek UKM

Jalin UKM : Sentra kerajinan tenun Lombok terletak di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggot, Kabupaten Lombok Tengah. Dari Mataram, kita bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi atau taksi. Jangan berharap pada kendaraan umum. Maklum, kendaraan umum di pulau ini terbatas, baik dalam jumlah maupun waktu operasionalnya.

Kita harus menelusuri Jalan Raya Praya, satu-satunya jalan raya besar yang mengarah ke Sukarara. Sentra tenun ini terletak di dekat pasar dan masjid di Sukarara. Untuk menuju pusat tenun, kita berbelok dan masuk ke gang yang kondisi jalannya beraspal seadanya. Kira-kira 500 meter dari jalan raya, kita akan menemukan beberapa rumah yang menyediakan tenun. Di sinilah pusat penjualan berbagai tenun Lombok.

Di barisan paling depan sentra ini ada UD Dharma Setya, salah satu pembuat tenun yang cukup besar. Produksi tenun Dharma Setya dilakukan di lokasi penjualan dan di rumah penduduk. “Di sini semacam pooling,” kata Robiah, pemilik Dharma Setya.
Masitah, pemilik pusat tenun Tawakal pun melakukan hal yang sama. Perempuan 46 tahun ini masih menenun di rumahnya. Tapi ia juga mengupah para penduduk Sukarara untuk menenun kain “Saya menyediakan bahan baku dan meminta dibuatkan motif-motif tertentu,” kata Masitah.

Para penduduk Sukarara, terutama para perempuan memang wajib belajar menenun. Sejak usia kanak-kanak para perempuan tersebut sudah diajari menenun kain dengan motif yang sederhana. “Saya dulu 10 tahun sudah bisa menenun,” kata Robiah.

Budaya tenun diwariskan dari orang tua ke anak-anak mereka. Para ibu mewariskan brire, salah satu alat untuk menenun kepada anak perempuannya. Tenun menjadi salah satu warisan penting di Sukarara. “Di desa lain, perempuan tidak wajib belajar tenun, hanya di Sukarara,” kata Robiah.

Kewajiban perempuan Desa Sukarara bisa menenun menjadi aturan yang masih berlaku hingga sekarang ini. “Menurut awe-awe adat, perempuan yang belum bisa menenun tidak boleh menikah,” kata Nurdin, salah seorang pemandu di Desa Sukarara.

Kain tenun di Lombok terdiri dari dua jenis, yaitu tenun ikat dan songket. Kain tenun ikat dikerjakan oleh para lelaki. Dalam sehari mereka bisa menghasilkan hingga tiga meter kain tenun ikat. Adapun Para perempuan menenun songket. Dalam sehari, mereka cuma mampu menenun maksimal 15 cm songket.

Ada aturan uni: perempuan Desa Sukarara yang belum bisa menenun tapi berani menikah bisa terkena denda. Dendanya berupa uang, padi, atau beras. Aturan soal tenun ini tidak berlaku bagi kaum lelaki, meski ada pula lelaki yang bekerja sebagai penenun kain ikat.

Memang aturan ini tampak diskriminatif. Namun, rupanya ada alasan logis yang mendasari aturan ini. “Kalau perempuan tidak bisa menenun lalu kawin dan punya anak, akan dikasih makan apa anaknya nanti?” kata Masitah, pemilik toko tenun Tawakal di Desa Sukarara, kecamatan Jonggot kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Keterampilan menenun menjadi satu pegangan hidup bagi perempuan Sukarara. Jadi aturan ini memang buat para perempuan itu sendiri agar bisa mandiri dan menghidupi dirinya. Di Sukarara, pemberdayaan perempuan sudah mulai sejak zaman dulu.

Lombok memiliki dua jenis tenun yaitu songket dan ikat. Tenun songket hanya dibuat oleh para perempuan dengan alat manual. Tenun ikat dibuat oleh para lelaki dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Kain songket biasa digunakan oleh para perempuan. Ciri khasnya, kain songket ini memiliki sisi depan dan sisi belakang. Songket biasanya menggunakan benang emas sebagai campuran dari bahan katun yang biasa dipakai.

Pembuatannya pun berbeda. Paling sulit dari pembuatan songket ini terletak pada penentuan motif. Pengerjaannya yang manual membuat waktu tenun menjadi lama. “Satu songket bisa selesai dalam satu bulan,” kata Masitah. Bahkan ada tenun songket yang baru kelar dalam waktu dua setengah bulan kalau memang motifnya rumit dan pengerjaannya tidak rutin.

Nurdin mengatakan para perempuan yang bekerja menenun songket dari pukul 08.00 hingga 17.00 biasanya hanya mencatat kemajuan tipis. “Sehari itu mereka bisa menenun minimal 10 sentimeter hingga maksimal 15 sentimeter,” kata Nurdin. Panjang rata-rata tenun songket ini sekitar 12 sentimeter per hari.

Biasanya para perempuan menenun songket dengan lebar 60 sentimeter dan panjang empat meter. Setelah selesai, songket itu akan dipotong dan disambungkan sehingga menjadi kain dengan panjang 2 meter dan lebar 120 sentimeter. “Ciri khas lainnya adalah sambungan di tengah untuk menyatukan dua kain itu,” imbuh Nurdin. Penyambungan kain itu tentu saja dilakukan oleh penjahit yang terampil agar motif dua belahan kain ini bisa menyatu sempurna. “Satu keluarga biasanya memiliki empat atau lima motif yang khas,” kata Nurdin.

Adapun tenun ikat memiliki waktu produksi yang lebih singkat. Satu hari, penenun ikat bisa menyelesaikan hingga panjang 3 meter tenun ikat per hari dengan ATBM. Tenun ikat memiliki motif bolak-balik sehingga tidak dibedakan antara bagian depan dan bagian belakang.

Tenun ikat hanya menggunakan bahan dari kain katun saja. Proses awalnya dimulai dari pemintalan benang. Setelah benang dipintal, benang-benang itu digambar motif dengan pensil. Motif tersebut lalu diikat dengan tali rafia untuk kemudian dicelupkan pada pewarna untuk dasarnya.

Sulit dan lamanya waktu pembuatan songket membuat harga kain tenun ini lebih mahal dibandingkan dengan kain ikat. Harga satu songket paling tinggi mencapai Rp 5 juta per lembar. Kebanyakan pembeli merupakan pembeli ritel. Dulu memang ada pembeli besar. Namun, kini, pembeli besar jarang datang.

Para penenun menggunakan berbagai pewarna untuk mewarnai benang tenun. Tenun lombok biasanya memiliki warna-warna alam seperti hitam dan cokelat. Warna-warna alam ini berasal dari pewarna alami.

Para penenun menggunakan serat pohon mahoni untuk cokelat kemerahan, batang jati untuk warna cokelat muda, biji asam untuk warna cokelat tanah, dan batang pisang busuk untuk cokelat tua. Selain itu, para warga Sukarara menggunakan campuran anggur dan kulit manggis untuk bahan warna alami ungu.

Namun, para perajin juga menggunakan pewarna kimia untuk warna-warna lain seperti merah muda, hijau muda, kuning, dan warna-warna yang sulit didapat dari pewarna alam.

Warna alam biasanya dipakai untuk tenun ikat. Sedangkan songket memiliki warna yang lebih cerah dengan aksen emas. Kain tenun ikat memiliki lebar 105 sentimeter. Panjangnya bisa mencapai 100 meter. “Kain ini dijual dalam bentuk meteran,” imbuh Nurdin.

Kain ikat biasanya dipakai untuk bahan selimut, seprai, atau bahan pakaian. Harga tenun ikat ini mulai dari Rp 100.000 per meter untuk tenun ikat katun dengan warna kimia. Adapun harga tenun ikat dengan pewarna alam harganya bisa mencapai Rp 150.000 per meter.

Adapun harga jual tenun songket Lombok bervariasi mulai dari angka Rp 200.000 hingga Rp 5 juta per lembar berukuran lebar 120 cm dan panjang 2 meter.

Selain tenun, Lombok pun memiliki kain lain yang muncul belakangan. Namanya batik lombok. Batik lombok lebih terkenal dengan nama batik sasambo. Nama itu merupakan kependekan dari Sasak, Sumbawa, dan Mbojo.

Pembuatan batik ini melewati dua kali pengerjaan. Pertama, para pekerja menenun kain polos putih, lalu kain dibatik dengan canting. Sasambo memiliki motif khas. Misalnya gambar rumah adat dan lumbung, serta tokek. “Tokek merupakan hewan keberuntungan di Lombok,” kata Nurdin.

Harga jual batik sasambo mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta untuk kain ukuran 1,2 x 3 meter. Namun, penjualan Sasambo sangat jarang di Sukarara. Para pengunjung biasanya mencari tenun yang memang sudah tenar di desa ini.

Robiah, pemilik Dharma Setya, mengatakan, pengunjung yang datang ke sentra tenun ini sulit dihitung. Memang ada saja rombongan turis lokal dan asing yang datang ke sentra ini. “Pengunjung yang datang belum tentu membeli,” kata Robiah.

Robiah mengatakan, sebelum tahun 1998, pengunjung asing sering datang ketika musim libur. “Kalau sekarang tidak ada musimnya, jarang ada yang datang,” imbuh Robiah. Ia mengatakan pembeli asing hanya datang satu atau dua rombongan per harinya. Pembeli besar pun makin sepi.

Pengunjung lokal lebih banyak di sentra ini. KONTAN mengamati, pengunjung sentra ini memang tak pernah sepi, dari pagi hingga sore hari. “Kadang sehari satu rombongan bisa beli semua, tapi pernah juga satu rombongan tidak ada yang beli songket,” imbuh Nurdin. Minimal, lima songket bisa laku setiap hari dengan harga rata-rata Rp 500.000.

Masitah, pemilik toko tenun Tawakal mengamini hal itu. Pengunjung di sentra tenun bagian belakang terhitung sepi. Ia pernah mendapat pembeli grosir yang memborong semua tenun di tokonya. Pembeli ini datang dari Bali yang kemudian menjual tenun di Pulau Dewata itu. “Dia sudah dua kali datang, tapi sampai sekarang belum datang lagi,” kata Masitah. Sekali borong, Masitah bisa mendapatkan puluhan juta dari si pembeli. Tentu saja, ia menjual dengan harga grosir.

Namun, pembeli borongan seperti itu jarang ada. “Kalau barang di mereka sudah habis, baru mereka datang lagi,” imbuhnya. Tak cuma pembeli yang datang kadang-kadang, pasokan tenun dari para penenun di desa Sukarara pun tidak tentu. Selain karena pembuatannya lama, para perempuan di Sukarara hanya menenun kala senggang.

Para perempuan di Sukarara, Jonggot, Lombok Tengah tidak hanya bekerja sebagai penenun. Mereka pun kadang menjadi buruh tani ketika musim panen dan musim tanam tiba. Ketika itulah para perempuan lebih memilih menjadi buruh tani karena upahnya lebih tinggi dan cepat.

Hampir seluruh penduduk Desa Sukarara, Kecamatan Jonggot, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki mata pencaharian sebagai petani. Para perempuan pun kadang-kadang turun tangan ke sawah menjadi buruh tani, terutama ketika musim panen dan musim tanam tiba.

Mereka lebih memilih menjadi buruh tani dibanding menenun karena mendapatkan penghasilan lebih. Para perempuan mendapat penghasilan mulai dari Rp 100.000 untuk satu produk songket seharga Rp 200.000. Padahal, pengerjaan satu sarung songket memakan waktu satu hingga 1,5 bulan.

Sementara upah menjadi buruh tani bisa Rp 15.000 per hari. Upah ini belum termasuk makan siang yang disediakan pemilik sawah. “Jadi pas panen mereka lebih memilih meninggalkan tenunan,” kata Masitah, pemilik toko tenun Tawakal.

Masitah tidak bisa memaksa para perempuan untuk mengerjakan tenun di musim panen atau musim tanam. Jadi, ia hanya mengandalkan stok tenun di masa panen.

Begitu pula Robiah, pemilik Dharma Setya. Ia mengandalkan stok barang untuk penjualan sehari-hari. Di tokonya memang ada banyak stok dan pilihan aneka tenun. Lagi pula, jarang ada pembeli yang memesan motif tertentu, kecuali pembeli yang mencari tenun untuk kebutuhan seragam. “Kebanyakan pembeli memilih stok yang sudah ada,” kata Robiah.

Di toko Robiah ada juga beberapa penenun yang tetap menenun meski musim panen. “Ada beberapa juga yang sedang tidak masuk karena sedang panen,” kata Nurdin.

Mereka memang karyawan Dharma Setya. Ada sekitar 20 orang karyawan yang menenun, membatik, dan memandu para pengunjung di Dharma Setya. Ada pula karyawan yang membuat mebel berbahan mahoni.
Mebel khas Lombok ini memiliki khas motif cukli. Cukli merupakan motif bentuk segitiga kecil yang dicungkil dan ditutup kembali dengan potongan kerang. Ada juga produk berupa tokek kayu. Tokek kayu biasanya terdapat di rumah-rumah di Lombok sebagai hiasan dinding.

Kebanyakan penenun merupakan perempuan dewasa. Sedangkan pembatik sasambo di Dharma Setya biasanya perempuan muda.

Selain masalah sumber daya manusia, masalah lain yang harus dihadapi para pengusaha tenun Sukarara adalah adanya produk buatan pabrik yang beredar di pasar. “Kami hanya menjual di sini dan tidak menjual ke pasar di luar Sukarara,” kata Nurdin. Ia mengatakan banyak tenun tiruan yang beredar yang bukan produk tenun dari Sukarara.

Untuk mempertahankan keberadaan tenun Sukarara, Dharma Setya pun sekalian menjadi semacam koperasi buat para penenun. Karena Sukarara merupakan satu-satunya tempat pembuatan tenun, Dinas Koperasi dan UKM NTB pun turun tangan membina para penenun dan pengusaha tenun desa ini.

 

Sumber :

http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1302163638/64244/Sentra-tenun-Sukarara-Wajib-hanya-untuk-kaum-perempuan-1

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: