jalinukm:

PELUANG INVESTASI DI JOGJA…..INVESTASI CONDOTEL DI JOGJA

Originally posted on CONDOTEL JOGJA:

Sumber gambar dan artikel lengkap di  Mataram city

Lokasi.  Bertempat di Jl. PalaganTentaraPelajar Km 7, Mataram City menjanjikan ketenangan beristirahat.  Simultan denganitu, Mataram City menyajikan akses yang sangat strategis ke Malioboro, UGM dan perguruan tinggi ternama lainnya, seperti UII, UPN, Atma Jaya, UNY, STIE YKPN, sertake Bandara Adi Sucipto.  Perjalanan menuju ke Borobudur, Kaliurang, Prambanan, bahkan ke Parang Tritisdan deretan pantai selatan di Gunung Kidul dapat dicapai dengan cara yang sangatmudah.

Fasilitas.  Mataram City adalah sebuah mixed-use development yang lengkap.  Kondotel dan Apartemen disempurnakan dengan keberadaan city-walk dan convention hall. Di samping itu, swimming pool, gym & spa, campus club, green park, coffee shop, dan laundry service akan memberikan kenikmatan gaya hidup modern dalam balutan  suasana tradisional Kampoeng Djogdja.  Berarea sekitar 2.5 hektar, Mataram City akan dilengkapi dengan tempat parkir yang luas, sehingga memudahkan para pengunjung dan penghuni beraktifitas.

Cara Pembayaran.  Pembeli dapat memilih pembayaran tunai, tunai bertahap…

View original 70 more words

Orang terkaya china awalnya hanya tukang jaga kantin sekolah?? inspirasi bisnis

Meski menjadi pria terkaya di Cina, dan terkaya nomor 23 secara global, Zong Qinghou adalah pria yang sangat hemat dalam menggunakan uangnya.

Menurut Bloomberg News, Zong, pendiri perusahaan minuman ringan Wahaha berusia 66 tahun ini, hanya menggunakan $20 per hari (atau Rp 190 ribu) meski ia memiliki kekayaan $21,6 miliar (atau Rp 206,1 triliun). Seperti terungkap oleh Nick Rosen dari BBC musim panas lalu, Zong memiliki pengabdian seperti biksu terhadap tugas-tugasnya. Salah satu karyawan Wahaha ingat bagaimana Zong memeriksa dengan teliti tiap pengeluaran kantornya, termasuk buat pembelian sapu.

Karir Zong berawal dari penjaga kantin di sekolah sampai menjadi raja minuman ringan dalam 20 tahun, sehingga sangat wajar kekayaannya itu tidak membuat dia lupa daratan. Seperti kebanyakan orang kaya lainnya yang berpenghasilan $100 ribu (atau Rp 954 juta) dan dikutip oleh PNC Financial Services, resesi tidak berpengaruh pada tujuan rencana pensiun mereka.

Selain menjadi penabung yang disiplin seperti Zong, seperti banyak responden survey PNC lainnya, 46% mengatakan mereka bekerja keras untuk mengurangi utang, 33% mengubah kebiasaan belanja mereka, dan 23% membayar utang rumah. Selain itu, mereka juga berencana terus bekerja pada usia emas mereka, dan tiga perempat mengatakan akan tetap bekerja, meski sedikit, setelah pensiun.

Anda tak perlu hemat seperti Zong, meski begitu sangat penting untuk melihat kebiasaan-kebiasaan apa saja yang membuat pria ini jadi kaya. Ia bekerja keras, mengikuti minatnya, dan hidup jauh di bawah pendapatannya. Sampai sekarang pun dia tidak mengubah gaya hidupnya meski sudah kaya. Sederhananya, dia berpikir seperti orang kaya, dan itu mendatangkan banyak uang buatnya.

sumber : Yahoo.com

Ratusan juta per bulan dari ayam bakar, profil sukses

ak gampang bagi Agus Pramono meraih sukses sebagai pemilik Ayam Bakar Mas Mono. Ia sempat berjualan kacang dari satu warung ke warung lain selama setahun. Lelaki asal Madiun ini juga pernah mengecap pekerjaan office boy dan penjual gorengan. Sampai akhirnya ia nekat berjualan ayam bakar tanpa bekal ilmu kuliner.

Lulus dari SMA di Kota Madiun, Jawa Timur, pada 1994, Agus Pramono merantau ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Mono, panggilan akrab Agus Pramono, tinggal dengan kakak pertamanya di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Saat itu, makan dan kebutuhan hidup lain ditanggung si kakak yang bekerja sebagai office boy.

Karena tak ingin membebani sang kakak, anak kelima dari enam bersaudara ini lantas mencari pekerjaan. “Saya jadi sales makanan ringan seperti kacang. Saya jual dari satu warung ke warung lain,” katanya. Pulang berdagang, Mono mengasuh anak kakaknya.

Setahun berjualan makanan, Mono mendapat tawaran kerja sebagai office boy (OB) di sebuah perusahaan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tak punya pilihan lain, ia pun menerima tawaran itu. “Dalam hati saya malu sekali. Saya disekolahkan paling tinggi dibandingkan dengan saudara-saudara saya yang lain, tapi kok ya jadi OB dengan gaji pas-pasan,” tuturnya.

Selama menjadi OB, Mono tak pulang kampung. Sebab, ia tak punya cukup uang untuk membeli tiket kereta. Bila banyak orang merayakan Lebaran di tengah keramaian, Mono malah sibuk mencari uang sebagai penjaga rumah orang yang sedang pergi berlibur.

Pernah ia tidak menjenguk ayahnya yang sakit lantaran tak punya tabungan. “Dari bapak saya sakit sampai meninggal di tahun 1998, saya tidak bisa ke Madiun. Itu tamparan keras buat saya,” katanya mengenang.

Tahun 2001 menjadi awal pijakan Mono merambah dunia usaha. Ia tinggalkan pekerjaannya sebagai OB dan beralih menjadi penjual gorengan. Dia berani berdagang walau tak punya keahlian apa pun tentang kuliner. “Saya cuma punya modal nekat,” ujarnya.

Di kamar sewaan berukuran 2,5 meter x 3 meter di Menteng Dalam, tempat tinggal Mono dan istrinya, bahan gorengan disiapkan. Bila bahan sudah siap, ia mendorong gerobak gorengan tiap pagi.

Mono berjualan keliling sekolah-sekolah dan kompleks perumahan. Jika azan maghrib telah berkumandang, ia dorong gerobak pulang dengan membawa Rp 15.000 di kantong. Terkadang, bila ramai pembeli, ia bisa bawa pulang Rp 20.000.

Sering, Mono menyembunyikan sisa gorengan yang tak laku dijual saat pulang ke kamar sewaan. “Sisa gorengan saya umpetin di bawah gerobak supaya tetangga tak melihat gorengan saya tak laku,” ungkap dia.

Mono sering berdagang gorengan di sekitar Universitas Sahid di Jalan Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan. Suatu hari, ketika ia tengah menunggu pembeli, Mono terpikir berdagang ayam bakar. “Saat itu, jarang sekali orang jual ayam bakar. Ditambah lagi masih ada lahan kosong di sekitar kampus Sahid,” ujarnya.

Yakin terjun ke usaha ayam bakar, Mono pun mencari modal. Akhirnya, ia mendapatkan modal Rp 500.000 untuk membeli bahan dan bumbu ayam bakar serta perlengkapan memasak.

Awalnya, Mono menyajikan ayam bakar, tempe, tahu, dan cah kangkung. Ketika itu, ia menjual seporsi nasi plus ayam bakar Rp 5.000. Rupanya banyak yang menyambangi gerobak Ayam Bakar Kalasan miliknya, baik mahasiswa, pegawai kantoran, dan orang yang lalu lalang di Jalan Soepomo.

Waktu itu, ia mengolah 80 ekor ayam per hari. Soal rasa, Mono belajar otodidak dari saran dan kritik para pelanggan. “Ada yang bilang pakai bumbu ini, pakai kecap itu, nasinya jangan nasi pera,” kata Mono. Ia pun mencoba menerima saran dan kritik pembelinya itu hingga benar-benar menemukan rasa khas Ayam Bakar Kalasan.

Melihat pengunjung yang makin banyak, Mono pun memperluas lokasi usaha. Dengan bantuan lima karyawan, ia mengubah konsep tempat makan, dengan menempatkan meja dan kursi berpayung terpal.

Pada tahun 2004, gerai ayam bakar Mono kena gusur. Ia pun memindahkan gerainya ke Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan. “Waktu itu, Tebet sepi, tidak seramai sekarang. Belum banyak usaha makanan juga,” katanya.

Dari sinilah, Ayam Bakar Kalasan makin dikenal luas dan punya banyak penggemar. Mono pun membuka cabang di banyak tempat hingga beromzet ratusan juta rupiah per bulan.

Dengan membesarkan  gerai Ayam Bakar Mas Mono yang tumbuh secara vertikal maupun horizontal, patut ditiru. Setidaknya, jejaknya dapat dilihat, kemudian diikuti. Apa rahasia paling mendasar yang membuat bisnisnya tumbuh dan berkembang seperti saat ini.

Bagi kalangan pebisnis kecil, Agus Pramono adalah pahlawan sekaligus teladan yang mewakili cita-cita kalangan pebisnis kaki lima untuk meraih kesuksesan. Hidup makmur berkecukupan dari hasil wirausaha.

“Sejak awal saya memilih lebih baik kecil menjadi bos daripada besar jadi kuli. Prinsip inilah yang membuat saya terpacu untuk bekerja terbaik dan selalu memiliki keinginan untuk membangun bisnis,” ujarnya.

Artikel lengkap di http://www.suaramedia.com

Kripik salak pondoh, potensi usaha kawasan merapi

Bicara mengenai keripik salak pondoh. Salak Pondoh dari Kab Sleman sudah sangat terkenal di berbagai daerah. Kini ada sensasi baru untuk menikmati buah khas lereng Merapi itu yaitu menikmati kripik salah pondoh yang renyah.

“Rasa keripiknya segar karena rasa buahnya masih kentara manis dan ada sedikit rasa masam,” kata Rafika (32), saat mencoba rasa kripik itu di stand UKM Tawangrejo Agro, Ambarrukmo Plaza.

Sambil mencomot lagi beberapa keping kripik, pelancong asal Malang itu mengaku baru sekali merasakan salak pondoh dalam bentuk kering. Menurutnya dari segi rasa dan kemasan kripik salak pondoh itu sangat cocok untuk oleh oleh ke tempat asalnya.

“Di Malang tempat saya ada kripik apel, tapi sesuai dengan potensinya di Sleman ada kripik salak pondoh. Ini layak dicoba,” kata perempuan yang akrab dipanggil Fika ini.

Ia pun tidak ragu memesan cemilan itu, satu bungkus kripik salah pondoh 100 gram ditambah satu bungkus kripik nangka 100 gram sebagai buah tangan untuk keluarga.

Adalah kelompok usaha Tawangrejo Agro asal Dusun Tawangrejo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem yang menciptakan cemilan buah tersebut. Industri rumah tangga itu mengolah buah-buahan segar menjadi keripik kemasan yang diberi label “Kharisma”.

“Selain salak pondoh, juga ada buah-buahan lainnya seperti nangka, pisang, nanas dan jamur tiram,” kata Marketing Tawangrejo Agro, Ani Sulistyawati.

Komoditas buah yang diproses menjadi kripik berasal dari kebun buah organik di Kab Sleman. Pengolahannya pun alami yakni buah segar dikeringkan selanjutnya digoreng dengan minyak tanpa menggunakan bahan pengawet. Setelah dikemas buah kering mampu bertahan hingga satu tahun.

Buah kering yang ditawarkan kepada konsumen ada dua kemasan yakni kemasan 40 gram seharga Rp 6.000 dan kemasan 100 gram seharga Rp12.500. “Semua jenis keripik buah dalam kemasan yang kami jual harganya sama saja,” kata Ani.

Untuk pemasarannya, Ani mengatakan hanya terbatas ke toko-toko lokal yang diperuntukkan kepada wisatawan yang berkunjung ke desa wisata Kabupaten Sleman. Selain itu pesanan juga dikirim ke sejumlah wilayah di luar DIY. “Kami juga mengirim ke Papua. Entah mengapa mereka menyukai kripik salak pondoh ini, market di sana lumayan bagus,” ujar Ani.

Sebagai usaha yang baru berkembang, pemasaran kripik buah ini masih memerlukan banyak dorongan terutama untuk mengambangkan skala usaha. Saat ini meskipun sejumlah wilayah di nusantara mulai tertarik dengan produk ini tetapi masih kesulitan untuk memenuhi pasar karena terbatasnya volume produksi.

“Mesin produksi cuma satu dan dalam pengemasan produk masih manual hingga kurang cepat. Jadi sementara ini kami masih bertahan dengan skala produksi yang kecil,” ujarnya.

Artikel lengkap di http://www.suaramedia.com

Solusi pengembangan bisnis bersama jatengpromo.com

Dunia usaha dan pariwisata sebagai motor utama penggerak perekonomi di pulau jawa khususnya di jawa tengah, menyimpan banyak potensi yang dapat di kembangkan secara luas dan mendalam.

Diera globalisasi dan pertumbuhan informasi yang semakin cepat, kebutuhan akan informasi terkini dan komunikasi didalam dunia bisnis diperlukan adanya solusi yang akurat dalam memperebutkan pasar.

Untuk itu Jatengpromo.com hadir dengan nuansa jawa yang sederhana tapi memeliki filosofi yang tinggi, berisi ragam publikasi, informasi bisnis dan pariwisata yang ada di pulau jawa.

Jatengpromo.com merupakan sebuah situs yang menjawab akan lajunya perkembangan bisnis khususnya jawa tengah.

Yang mana Jawa tengah merupakan pangsa pasar yang sangat potensial dan dinamis. Potensi bisnis inilah yang ingin kami angkat sebagai peluang, baik dari sisi financial maupun dari sisi pemenuhan akan kebutuhan informasi publikasi dan promosi.

copy from jatengpromo.com

Budidaya tanaman holtikultura yang menguntungkan, peluang usaha magelang

Usaha pembibitan tanaman akan menjadi bisnis yang menjanjikan. Usaha pembibitan tanaman banyak terdapat di Indonesia. Indonesia sebagai negara agraris mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Dalam dunia pertanian khususnya hortikultura atau sayuran, benih merupakan faktor produksi yang sangat vital.

Tanaman yang sehat sangat tergantung dari benihnya pula. Untuk mendapatkan tanaman yang sehat, maka benih yang dibeli harus disemaikan terlebih dahulu untuk kemudian dipindah tanamkan setelah berupa bibit. Selama persemaian, benih membutuhkan perhatian yang ekstra.

Seperti halnya usaha yang ditekuni oleh Bpk Agus Suyanto yang beralamatkan di Dukun Magelang yang menjalankan usaha pembibitan tanaman holtikultura sejak tahun 2001. Saat ini, pembibitan sayuran yang beliau usahakan meliputi komoditas  berbagai jenis Cabe, Terong, Tomat dan kol batu, bunga kol, dan sawi. Kini usaha pembibitan tanaman Bpk Agus Suyanto telah berkembang pesat. Bpk Agus Suyanto juga menerima pesanan lewat telepon dan bisa diantar sampai tujuan.

Peluang bisnis ikan koi, solusi usaha pesantren al barokah ngluwar

Budidaya ikan air tawar merupakan usaha yang menjanjikan keuntungan. Salah seorang yang menekuni usaha budidaya ikan air tawar adalah Bapak Musif Muhaymin. Kolam pembibitan ini diperuntukkan untuk ikan hias baik lokal maupun import. Salah satunya yaitu budidaya ikan koi.

Bagi yang meyakini, ikan koi mampu membawa keberuntungan. Ikan koi di Indonesia merupakan ikan hias favorit dan banyak digemari masyarakat luas karena tubuhnya yang mempesona dan harganya relatif tidak terlalu mahal. Banyaknya bereder ikan koi lokal juga mewarnai harga ikan tersebut menjadi lebih bervariatif dan terjangkau oleh semua kalangan.

Walau sepintas tampak sederhana, namun koleksi ikan koi “Al Barokah” sangat lengkap. Dengan perawatan yang cermat dan kecintaannya terhadap ikan koi, “Albarokah” mampu menghasilkan ikan koi berkualitas unggulan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.